Cinta dan Produktivitas

myonlyminds October 14th, 2009

Produktivitas lahir dari rasa cinta yang mendalam seorang manusia thd sesuatu. Makin dalam rasa cintanya, maka akan semakin PRODUKTIF KERJA yang dilakukannya.Cinta mengandung tanggung jawab & pemahaman. Cinta juga bermakna pengorbanan. Memberikan… apa yg terbaik bg kekasihnya.

Quote by Ibu Zahrina Nurbaiti

* * *

Quote keren banget! I like this.

Ngomong-ngomong soal kekasih? Saya pikir, saya punya satu, yang mana saya benar-benar menaruh cinta di atasnya.

Cintaku yang terbesar di dunia itu untuk kamu.

Karena padamu kugantungkan asaku akan kehidupan di sekitarku yang lebih baik. Lebay? It’s fine if you say so..

Anjing menggonggong, burung berkicau, harimau mengaum, kucing mengeong, aku akan tetap berlalu ahahahay :P

Ik Hou Van U, More and More X)

belajaryok, myonlyminds October 13th, 2009

Friends,

Postingan kali ini, rada gak penting sih, hehe. Cuman mau cerita-cerita aja nih.. Oya postingan ini, insya Allah adalah prolog dari postingan-postingan berikutnya tentang negeri Belanda, so stay tune yah… :P

* * *

Di semester akhir ini, selain mengerjakan skripsi dan mengambil mata kuliah E-Commerce + Metodologi Penelitian, saya juga mengambil mata kuliah bahasa Belanda.

Banyak juga anak sastra yang bertanya kepada saya, kenapa anak fakultas ilmu komputer kok mau ambil mata kuliah bahasa Belanda. Alasan pertama, karena saya sudah kapok dengan bahasa-bahasa sejenis Mandarin, Jepang, dan Korea. Kebetulan pernah icip-icip dikit untuk tiga bahasa itu. Dan saya merasa tidak tahan untuk harus menghafalkan bentuk tulisan, cara menulisnya, pelafazannya, dan arti katanya! Rasa-rasanya kapasitas otak tidak cukup untuk menampung itu semua, hahaha (LOL).
Karena itu, saya lantas beralih ke bahasa-bahasa yang dimiliki oleh kawan-kawan di Eropa. Di SMA, saya pernah sedikit belajar bahasa Perancis. Namun, jujur saja saya kurang suka *walau waktu SMA pernah menang juara satu lomba baca puisi bahasa Perancis hahaha*. Akhirnya, setelah dapat rekomendasi dari mama, saya memutuskan untuk mengambil bahasa Belanda saja. Kata mama, “Ntar biar bisa sama-sama belajar, len! Kamu ngajarin mama, mama juga ngajarin kamu”. Maklumlah, mama saya pernah hidup di zaman ketika sisa-sisa kolonialisme masih kuat, sehingga bisa sedikit berbahasa Belanda *walau banyak lupanya hehe*.

Oya, tentang keputusan ini. Ternyata, saya tidak salah. Semakin hari, di setiap pertemuannya, saya makin mencintai belajar bahasa Belanda. Menurut saya pribadi, bahasa Belanda lebih mudah daripada bahasa Perancis ataupun Jerman. Kenapa? Pertama, karena kosakata dalam bahasa Belanda juga banyak terdapat dalam bahasa Indonesia, begitu juga sebaliknya, sehingga saya merasa familiar. Contohnya adalah kamer yang diserap menjadi kamar, klaar yang diserap menjadi kelar, tas yang tetap tas, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk kata bahasa Indonesia yang dikenal di Belanda kebanyakkan adalah jenis-jenis makanan, misalnya pisang goreng hehe XP. Alasan kedua adalah karena bahasa Belanda juga mirip-mirip dengan bahasa Inggris. Walau ada struktur kalimatnya yang sedikit dibolak-balik..

Hal lain yang saya suka dari kuliah bahasa Belanda ini sebenarnya adalah suasana kelasnya dan dosennya. Gak seperti di fakultas saya, suasana kuliah di fakultas sastra itu cukup menyenangkan. Satu kelas biasanya diisi 15 - 30 orang. Bandingkan dengan di fakultas saya (ilmu komputer), di mana satu kelasnya bahkan bisa mencapai 40-an orang. Isi kelas yang sedikit membuat saya lebih mudah memfokuskan perhatian pada sang dosen. Selain itu, hal lainnya yang saya sukai adalah dosen-dosennya dan metode pengajarannya yang beragam (games, nyanyi, dll). Dosen-dosen sastra memang sepertinya dituntut untuk ekspresif, kreatif, dan aktif berkomunikasi dengan muridnya. Ya iyalah ya… Belajar bahasa itu memang dituntut sebuah intensitas yang lebih agar apa yang telah dipelajari tidak sekedar lewat. Bahkan katanya, lebih bagus lagi kalau setiap hari kita bisa meluangkan waktu minimal 1 jam untuk mengulang-ulang pelajaran bahasa Belanda. Belajar bahasa memang sangat berkaitan dengan pengulangan, supaya tercantol di memori otak kita. Belajar bahasa juga berkaitan dengan bagaimana kita dapat mengimitasi apa yang telah kita dengar semirip-miripnya. Katanya, sih jangan malu kalau salah mengucapkan atau mengimitasi suatu percakapan dalam sebuah bahasa.. karena itu juga proses pembelajaran.

Intinya, sih..

Ik hou van u, Nederlands more and more :)

Hehe, semoga ba’da kuliah ini, masih bisa lanjutkan ke tingkat berikutnya!

* * *

Next postingan, insya Allah akan membahas apa yang saya dapatkan dari kuliah bahasa Belanda mengenai negara Belanda dan kisah-kisah di sekitarnya, seperti tentang calvinisme, humblenya orang Belanda, bunga tulip yang ternyata aslinya bukan dari Belanda, sepeda, rumah-rumah kapal, cuaca Belanda, pembuatan keju, red light district, sepatu kayu Belanda, dan lain sebagainya….  ;)

From Zero to “Hero”

belajaryok, myonlyminds, nasihatmenasihati October 12th, 2009

Juga diposting di SINI

“Orang-orang besar atau sukses tidak pernah berhenti berusaha hanya karena berhadapan dengan batu-batu rintangan di jalan yang dilaluinya.”

(Quote asli dari saya, Suci Lestarini N :P)

Oh ya, kalau mau komen di sini aja hehehehehe: LINK

* * *

ouray_ice_climbing

Sebutlah namanya Moti. Kira-kira lebih dari lima belas tahun yang lalu, ia bekerja sebagai “asisten rumah tangga” di keluarga saya. Ketika itu, tentu saja, saya masih kecil sekali. Kisah tentang ia, saya dapatkan dari ibu saya :)

Moti asli Demak, sama seperti alamarhum ayah saya. Ketika pertama bekerja di keluarga saya, usianya masih belasan tahun. Namun karena alasan ekonomi, Moti terpaksa mengadu nasib sebagai “asisten rumah tangga” dan mengubur impiannya bersekolah. Sebuah keputusan yang berat bagi anak seusianya. Ketika teman-temannya bisa bersekolah dan ia hanya bisa menggantungkan citanya.

Kata ibu, Moti anak yang sangat rajin bekerja ketika itu. Almarhum ayah dan ibu sangat menyukainya. Oleh sebab itu, almarhum ayah dan ibu saya sepakat untuk memberikannya “bonus”. Moti kemudian ditawari untuk bersekolah.

Bagai mendapat durian runtuh, tawaran tersebut tentu diamini Moti dengan segenap jiwa dan raganya. Moti benar-benar giat dan rajin bersekolah hingga lulus sekolah menengah atas. Selepas itu, Moti sudah tidak lagi bekerja pada keluarga kami karena sebuah hal yang saya lupa mengapa.

Kisah Moti tentu saja tidak berakhir hingga paragaraf di atas. Beberapa puluh tahun kemudian, saya, adik, dan Ibu berkesempatan bertemu dengan Moti. Ketika itu, kami sekeluarga hendak ziarah ke makam alamarhum ayah di Demak. Karena tidak punya keluarga untuk “numpang bermalam” di Demak, maka ibu pun menghubungi Moti agar bisa menginap di rumahnya. Begitulah, dalam keluarga kami, tidak pernah ada pembedaan antara asisten rumah tangga dan majikan. Kami diajarkan untuk menghargai setiap orang dan memperlakukan mereka sama seperti yang lainnya.

Tak dinyana, sesampainya di Demak, Moti sudah menjadi seseorang yang luar biasa. Kami yang berangkat ke Demak menaiki bis, dijemput oleh keluarga Moti dengan mobil yang cukup lumayan di tempat yang telah disepakati sebelumnya. Di mobil, Moti bercerita banyak hal. Katanya, saat ini, ia telah bekerja sebagai seorang PNS di bagian pertanian di Demak. Ia bercerita, selepasnya dari rumah kami, ia membuka usaha sebagai seorang tukang jahit. Ilmu menjahit ketika itu memang Moti dapatkan dari ibu saya yang pandai menjahit. Dari hasil usaha jahit-menjahit, Moti mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga bisa berkuliah S1 pertanian dengan uangnya sendiri.

Di kampus, Moti bertemu dengan pangeran idamannya. Mereka lantas menikah. Bertahun-tahun mereka membina rumah tangga dengan tekun sambil terus berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik. Dan kami memang melihat hasil kerja keras Moti dan suaminya. Saya dan ibu terperanjat dengan rumah yang didirikan oleh Moti. Untuk ukuran “tinggal di perkampungan”, rumah yang dibangun Moti dan keluarga cukup besar. Lantainya sudah dikeramik semua, halamannya luas penuh tanaman beraneka ragam. Kesuksesan Moti tidak hanya terlihat dari materi tapi juga dari anak-anaknya. Yang tertua, baru berhasil masuk perguruan tinggi yang cukup bagus di Semarang dengan jurusan teknik informatika. Yang lebih muda, berhasil berprestasi baik di sekolahnya.

Benar-benar luar biasa. Saya dan ibu benar-benar terkagum-kagum dengan Moti. Yang membuat saya malu adalah bahwa ketika saya hendak kembali ke Jakarta, Moti memberi saya dan adik “uang saku”. Sudah susah payah saya menolak, tapi ia tetap bersikukuh. Katanya, untuk jajan-jajan buku. Saya paham, Moti pasti menganggap saya dan adik juga “anaknya”. Kami berdua memang belum bekerja dan masih bersekolah. Tapi, tidak pernah terbayang bahwa akan begini jadinya. Dulu kami yang biasa memberikan uang tanda terimakasih kepada Moti, tapi kini malah berbalik.

* * *

Bagi saya, kisah di atas luar biasa. Moti benar-benar menjadi saksi hidup saya akan kekuatan sebuah impian. Dari seorang “asisten rumah tangga” biasa hingga menjadi seorang PNS dengan hidup yang berkecukupan. Perjuangan Moti dalam menggapai impian hidupnya benar-benar patut diacungi jempol.

Moti adalah contoh nyata dari orang-orang besar yang tidak pernah berhenti berusaha hanya karena keadaan awalnya yang kurang menguntungkan. Ia tidak pernah mengeluh dan menangisi nasibnya dilahirkan di keluarga yang kekurangan. Justru, ia terus menatap ke depan, tetap bergerak, berusaha dan bekerja sesuai kemampuannya. Ia terus bersikap positif, menciptakan peluang-peluang baginya untuk terus maju, dan menerjang segala rintangan yang ada di hadapannya.

Untuk mempunyai semangat seperti Moti memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Yang perlu kita tanamkan terus dan terus adalah semangat pantang menyerah dan pikiran positif serta optimis untuk meraih cita.

Seandainya setiap pemuda-pemudi Indonesia adalah orang-orang seperti Moti, saya yakin bahwa masa depan negara ini akan lebih cerah. Karena kita mempunyai agen-agen pewaris dengan semangat yang membara untuk menggapai impiannya juga mudah bangkit dari segala keterpurukkan.

I really wait the next Motis in Indonesia. I do believe that we can, coz Moti can ;)

From Zero to “Hero”

Loving What You Do

myonlyminds October 11th, 2009

Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking, and don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it.

~Steve Jobs

* * *

I love doing my final project.

I love taking care of Indonesia Berprestasi website, both Indonesian and English version.

I love taking care of LadangBuku.Com

I love them all..

Coz i believe i can give something, even only a little, through what I’m doing right now :)

Thanks Steve Jobs, i agree with you!

Garis Tangan Tergambar Tak Bisa Aku Menentang..

belajaryok, myonlyminds, nasihatmenasihati October 10th, 2009

Baru saja membaca note temannya teman di Facebook. Judulnya “Klasik, Namun Mengusik”.

Thanks for sharing that note.

Saya tidak kenal Anda, tapi saya jadi diingatkan lagi bagaimana harus bersikap yang lebih baik. Bagaimana harus menjaga sesuatu yang sangat penting sampai saat itu tiba. Karena seperti apa yang didendangkan oleh Melly Goeslaw, ” garis tangan tergambar tak bisa aku menentang..”

Hanya berdoa kepada-Nya semoga yang terbaik untukku akan datang di saat yang tepat :)

Bisnis Baru, Mahasiswa, dan Survive

belajaryok, myonlyminds October 10th, 2009

Beberapa bulan lalu, saya baru saja meluncurkan sebuah bisnis baru bersama kawan-kawan. Bisa dibilang, konsepnya pun benar-benar baru bagi masyarakat Indonesia kebanyakkan. Maklumlah, yang namanya persewaan buku online baru sedikit kan? Baru dua setau saya, bookoomoo.com di Surabaya dan ladangbuku.com di Jakarta.

Jujur aja saya pusing tujuh keliling saat ini. Sudah satu bulan lebih berlalu, tapi ladangbuku.com belum menunjukkan perkembangan signifikan. Saya mengakui faktor terpenting dari stagnasi ini adalah dari faktor internal. Tim ladangbuku.com belum solid, promosi masih gak maksimal. Saya maklum, kami semua punya kesibukkan masing-masing. Mahasiswa gitu loh, saya sendiri lagi sibuk ngerjain Tugas Akhir sembari mengurus anak saya yang satu lagi, indonesiaberprestasi.web.id. Yang lainnya, fokus kuliah dan kegiatan-kegiatan organisasi.

Padahal, yang saya yakini, sebuah bisnis baru dengan konsep baru dan didalangi oleh orang-orang baru (apalagi belum punya kredibilitas/good will di mata orang-orang) butuh perjuangan yang benar-benar ekstra keras untuk bisa *paling tidak* menumbuhkan KEPERCAYAAN pasar terhadapnya dan SURVIVE *walau masih belum untung*. Melalui postingan ini, saya sih tidak berniat untuk mengeluh hehe. Karena tentu saja saya pun tidak akan menyerah! Kamu tahu, saya itu tipe orang yang ngotot dan *sering sekali* tanpa ba-bi-bu dalam mengerjakan sesuatu. Alias tipe trial and error haha, so semua jalan pasti saya coba. Sebenarnya pun, saat ini, saya sudah punya strategi baru on how to build market trust in this new business dan bagaimana membuat bisnis baru saya “tidak terasa berat” bagi para pelakunya yang notabene masih mahasiswa dan punya banyak kegiatan.

Hanya saja, saya juga ingin tahu pendapat dari kawan-kawan semuanya mengenai tiga kata kunci yang menjadi judul postingan ini. Bagaimana para MAHASISWA bisa SURVIVE dalam menjalankan sebuah BISNIS BARU dengan KONSEP yang *mungkin saja* benar-benar BARU?

Please share ur ideas or opinions, pals! :)

The Path

myonlyminds October 5th, 2009

Just found some nice words this morning..

“Look at every path closely and deliberately

Try it as many times as you think necessary

Then, ask yourself and yourself alone, one question..

Does this path have a HEART?

If it does, the path is good; if it doesn’t it is of no use”

Carlos Castaneda The Teachings of Don Juan

~ Then, what is your path?

Untuk Kesempurnaan I’tikaf*

belajaryok, nasihatmenasihati September 10th, 2009

*) Disarikan dari Majalah Tarbawi Edisi 212 Th. 11 Syawal 1430 H / 8 Oktober 2009 M

Untuk tambahan ilmu buat saya juga kita semua :)

Definisi

Dapat diartikan sebagai sikap berdiam diri di suatu tempat untuk melakukan ibadah terhadap Allah. Ulama sepakat bahwa i’tikaf adalah sesuatu yang disyariatkan dalam Islam. Rasulullah saw telah melakukannya di setiap Ramadhan selama sepuluh hari. Bahkan di Ramadhan terakhir menjelang wafat, beliau melakukan i’tikaf selama dua puluh hari (HR. Bukhari dan Abu Daud)/

Memulai dan Mengakhiri I’tikaf

I’tikaf tidak memiliki batasan waktu. Kapan pun seseorang berada atau duduk di masjid, dan berniat melakukan i’tikaf, baik itu dalam waktu yang lama atau hanya sesaat, maka ia dinamakan mu’takif. Pahalanya akan terus mengalir sepanjang ia tetap berada dalam masjid tersebut. Jika ia keluar dari masjid dan kembali ke tempat duduknya ia harus memperbaharui niatnya jika ia masih bermaksud untuk beri’tikaf.

Dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata, “Sesungguhnya aku, ketika berada di dalam masjid walau hanya satu jam, tidaklah aku melakukannya kecuali karena niat i’tikaf.” Atha’ berkata, “Ia adalah i’tikaf selama seseorang berada di dalamnya. Dan jika ia duduk di dalam masjid dengan tujuan mendapatkan kebaikan maka dinamakan mu’takif. Jika tidak, maka ia tidak disebut demikian”.

Rukun I’tikaf

Jika tidak dilakukan di masjid, atau tidak diawali dengan niat maka berdiam diri itu tidak disebut i’tikaf. Rasullah saw menegaskan pentingnya niat dalam amal, seperti dalam hadits berikut, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan.”

Adapun masjid sebagai tempat pelaksanaan, Allah berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) itu, sedangkan kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 187)

Ayat ini memberikan pemahaman bahwa andaikan Allah membolehkan kita beri’tikaf di selain masjid, maka tentu Allah tidak mengkhususkan larangannya menggauli istri di saat seseorang sedang melakukan i’tikaf di masjid. Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa i’tikaf itu hanya dapat dilakukan di masjid, bukan di rumah maupun mushala.

Yang Dianjurkan dan Dimakruhkan

Dianjurkan untuk memperbanyak ibadah nawafil atau sunnah; menyibukkan diri dengan melakukan salat, tilawah, membaca tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Rasulullah, berdoa, dan ibadah lainnya yang mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya. Juga dianjurkan untuk membaca atau mempelajari kitab tafsir, hadits, berada dalam lingkaran majelis dzikir dan ilmu.

Dimakruhkan menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengan ibadah dan ketaatan, seperti mengobrol yang tidak bermanfaat, atau melakukan aktifitas di luar amal ketaatan. Dimakruhkan juga untuk diam saja, tidak mau berbicara. Disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Rasulullah saw pernah menyuruh seseorang yang bernadzar tidak ingin berbicara dengan siapapun untuk berbicara.

Yang Membatalkan I’tikaf

Batal apabila seorang mu’takif keluar dari masjid tanpa alasan dan tanpa keperluan yang diperbolehkan, kecuali untuk kebutuhan manusiawi seperti makan, jika tidak ada yang mengantarkan/membelikan. Orang yang beri’tikaf juga tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Allah berfirman, “Tetapi jangan kamu campuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu beri’tikaf di masjid.” (QS. Al Baqarah: 187).

Wanita yang mengalami haidh atau nifas ketika sedang i’tikaf, secara otomatis i’tikafnya batal. Pun, jika seorang wanita ditinggal mati suaminya sedang ia dalam keadaan i’tikaf di masjid, maka dia wajib meninggalkan masjid dan menjalani masa iddahnya di rumah. Terakhir, bagi orang yang murtad, secara otomatis i’tikafnya juga batal, karena Islam adalah salah satu syarat sahnya i’tikaf.

Bermalamlah di Masjid, Wahai Diriku!*

myonlyminds, nasihatmenasihati September 10th, 2009

dua1

Hari Keduapuluh, Malam Keduapuluh Satu

Wahai diriku, tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu.. Hitungan sudah memasuki hari keduapuluh dan malam keduapuluh satu. Sebentar lagi, bulan yang penuh dengan keutamaan ini pergi meninggalkanku. Dan aku pun harus menunggu lagi selama satu tahun untuk dapat berjumpa dengannya. Itu pun jika umurku masih ada.

Malam yang Berharga

Wahai diriku, sesungguhnya Allah swt telah menjadikan sebagian hari atau malam lebih utama dari hari atau malam yang lainnya. Di saat-saat itu, Allah menebarkan rahmat-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Sungguh sangat bahagia, jika engkau dapat lebih mendekatkan diri kepada-Nya, wahai diriku! Berdzikir mengingat-Nya, memohon ampunan-Nya, melantunkan doa-doa kepada-Nya.

Wahai diriku, berusahalah untuk tidak menyia-nyiakan malam-malam terakhir ini. Setiap detiknya sungguh sangat berharga, bahkan lebih berharga dari intan dan berlian seberat apa pun. Utamakanlah untuk beribadah wahai diriku! Lupakanlah sejenak duniamu, mendekatlah kepada-Nya. Sungguh pada malam-malam ini, Allah akan bertanya-tanya, “Adakah orang yang  meminta kepadaKu?”

Bermalamlah di Masjid, Wahai Diriku!*

Wahai diriku, ingatlah bahwa di sepuluh hari terakhir itu, Allah menyisipkan sebuah malam yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, Rasulullah mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya, “Adalah Rasulullah saat memasuki sepuluh hari terakhir, lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah, melebihi hari-hari lainnya.”

Wahai diriku, bermalamlah di masjid! Lakukanlah i’tikaf seperti yang dilakukan oleh Rasulullah. Ingatlah bahwa di sepuluh hari terakhir itu, Allah juga menyisipkan sebuah malam yang memiliki keutamaan lebih baik daripada seribu bulan. Berdiam dirilah di masjid, hidupkanlah malam dengan ibadah-ibadah sunnah, perbanyaklah bacaan Al-Qur’an, bermohonlah kepada-Nya.

Semoga di malam-malam itu, Allah mendengarkan segala pintamu, keluh kesahmu, ketidakberdayaanmu.

“Rabb kami tabaraka wa ta’ala senantiasa turun setiap malam ke langit dunia di sisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepadaku pasti aku jawab untuknya? Siapa yang meminta ampun pasti aku ampuni’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, wahai diriku, manfaatkanlah waktu yang Dia berikan. Manfaatkanlah malam-malammu untuk semakin mendekat kepada-Nya. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Percayalah Ia akan memelukmu erat di malam-malam itu, mengobati hatimu yang nestapa, mengampunimu yang berlumuran dosa. Ketika langit malam dipenuhi pinta-pinta hamba-Nya…

*) Terinspirasi dari judul Renungan di Hari Keduapuluh: Bermalamlah di Masjid Saudaraku dalam buku Kubisikkan Untukmu, karya Muhammad Lili Nur Aulia.

Kennismaking with Prince William..

belajaryok September 3rd, 2009

Hanya khayalan tingkat tinggi..

Untuk sedikit membantuku belajar Bahasa Belanda dengan baik dan benar, wkwkwkwk :P

***

Prince William: Dag, mevrouw

Me: Dag, meneer

Prince William: Mag ik me voorstellen? Ik ben William

Me: Dag, meneer William. Mijn naam is Leni

Prince William: Aangenaam om met u kennis te maken, mevrouw Leni

***

Kapan ya percakapan seperti ini benar-benar terjadi?

LOL