Sebenernya ini suatu hal lama..

Temen-temen mungkin sudah pernah membacanya.

Tapi, bagi saya yang namanya nasihat menasihati tidaklah mengenal kata kadaluarsa. Saya kembali diingatkan lagi tentang hal ini dari seorang kawan, yang bahkan saya belum mengenalnya dari hati ke hati.. Ukhti Meralda, terimakasih sudah mengingatkan saya :)

Semoga suatu saat kita bisa bertemu dan menjalin persahabatan yang erat karena-Nya :)

* * *

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra)

* * *

Ya Allah, aku mohon maaf padaMu..

Jika apa yang pernah kuucapkan belum sejalan dengan yang kulakukan

Jika pernah terlintas di benakku niatan-niatan lainnya selain untuk ibadah padaMu..

Semoga aku bisa senantiasa memperbarui niatku



3 Comments to “Maafkan Aku, Allah…”

  1. Nur Ali Muchtar | December 2nd, 2009 at 1:17 am

    sepertinya, saudari Leni ini “gila” baca
    btw, di situsnya bang Dhodie (ketua komunitas blogger depok): http://www.dhodie.com ada foto acara KUBUS tempo lalu lho

  2. dhodie | December 24th, 2009 at 12:49 pm

    ^ nama saia dibajak *snif snif*

    manusiawi len, kadang kita khilaf dengan ucapan kita. Itulah gunanya teman.. mengingatkan kala kita khilaf.

  3. pendekar | December 28th, 2009 at 4:14 pm

    artikel yang menarik. oia, jangan lupa mampir ke sini ya…

Leave a Comment

kalkun