Jadi Sales di Pondok Indah
myonlyminds May 11th, 2008
Ceritanya, saya dan teman-teman sedang iseng-iseng membuka lembaga privat komputer untuk ekspatriat (baca: bule). Namanya ***. Sebenarnya lembaga ini sudah lama dicetuskan, sejak tahun 2007 silam. Hanya saja, dalam pelaksanaannya belum terlalu optimal. Maklum, ‘para petingginya’ (sok) sibuk mulu
Nah, ceritanya lagi, saat ini saya dan teman-teman sedang dalam tahap marketing *** ke khayalak ramai. Maklum, newbie, so.. tercetuslah sebuah ide untuk melakukan marketing dengan cara menyebarkan brosur di pusat-pusat keramaian (apalagi yang banyak expat-nya). So, hari ini, berangkatlah kami (saya, Puspa, Rozi) ke sebuah mall terkenal di selatan jakarta. Awalnya berharap Edo akan datang, maklum hanya dia satu-satunya yang kami pandang paling ‘pantas’ (ganteng hahah) untuk menjadi sales, tapi ternyata gak datang. Huhuhu… Tapi, mau gimana lagi, rencana harus tetap jalan.
Kami mulai mencari tempat-tempat strategis di Pondok Indah untuk menyebarkan brosur. Sambil cekakak-cekikik dan mengomat-ngamitkan sebuah frasa sakti sebagai penguat hati, “tebal muka.. ayo len.. tebal muka.. ayo kita harus tebal muka..” kita berjalan ke sebuah eskalator. “Oke, sepertinya di sini bagus. Kita bagi dua aja, Rozi eskalator sebelah sana (turun), gw eskalator sebelah sini (naik).”, kata Puspa. “Len, lo depan Hero aja tuh. Biar kelihatan ama kita juga.”
Berjalanlah kami ke tempat masing-masing. Saya yang tadinya diminta untuk membagikan brosur di depan Hero mengurungkan niat karena merasa tidak enak hati jika langsung membagikan tanpa meminta izin kepada siapa pun. Berjalanlah saya menuju pintu keluar di samping Hero. Tujuan saya, bertanya kepada satpam di sana, apakah saya benar boleh membagikan brosur di mall ini. Tapi, ternyata, tidak boleh boo.. Mesti izin dulu sama pihak manajemen Pondok Indah di lantai 1.
Kembalilah saya ke eskalator tempat Puspa dan Rozi membagikan brosur untuk memberitahukan hal tersebut. Ternyata, mereka pun sudah berhenti membagikan brosur karena merasa tidak efektif, banyak yang menolak (jangan-jangan dikirain minta sumbangan)! Setelah saya utarakan bahwa untuk membagikan brosur harus ada izin, meluncurlah kami ke kantor manajemen Pondok Indah untuk meminta izin. Ternyata, jreng-jreng, peraturan yang ada saat ini hanya membolehkan pemilik kontrakkan di mall tersebutlah yang boleh melakukan promosi. Sedangkan kami? Pihak luar! Kalau mau menyebarkan brosur, harus berbicara dengan manajer promosi-nya. Tapi, lagi-lagi sang manajer promosi harapan satu-satunya lagi libur! Uhuk.. uhuk..
Karena gak mau jerih payah kita menuju Pondok Indah sia-sia.. setelah melalui pemikiran pendek nan sempit, maka sepakatlah kami untuk mengabaikan peraturan tersebut dan mencari titik-titik promosi yang paling aman dari awasan ’security’ (jangan ditiru ya.. terpaksa nihh!). Seiring dengan langkah kaki, kami menemukan bahwa titik yang cukup aman untuk menyebarkan brosur adalah di lantai 3, di eskalator menuju ke skywalk PIM 2.
Saya dan Rozi berada di samping eskalator naik dan Puspa berada di seberang kami (eskalator turun). Mulailah kami membagikan brosur-brosur ***. Semua berjalan lancar, kami bertiga senang sekali. Apalagi, ada beberapa orang yang merespon dengan bertanya-tanya lebih jauh mengenai ***. Ternyata, menyenangkan juga!!! Lucunya, Puspa sempet juga bertemu dengan sepupu ayahnya sampai cipika-cipiki segala kayak reunian. Beberapa expat ada juga yang menerima brosur kami, tapi ada juga yang menolak (kalo komentar adek saya: yang bagiin tampangnya caur semua sih, makanya bule-bule pada nolak *btw, caur itu apa sih?*).
Sampai pada akhirnya, ada seorang bapak tinggi besar berkulit sawo geseng (upps maaf) menerima brosur yang disodorkan Rozi. Sambil memegang brosur tersebut, si bapak lantas menanyai Rozi sambil berdiri di sampingnya. Pikiran saya waktu itu, “Wah, asik ada respon lagi..”. Tapi, tiba-tiba, saya mendengar Rozi mengucapkan “Innalillah..”. Kagetlah saya dan menengok ke arah ia dan bapak itu. Lalu, bapak itu lantas berjalan ke arah saya dan bertanya, “Sudah ada izin belum?”. Deg. Taulah saya, ternyata bapak-bapak ini adalah security berpakaian preman (sipil)! Saya lantas pura-pura gak denger dan memasang tampang bodoh. “Kenapa, Pak?”. Dia bertanya lagi, “Bagiin brosur, kan? Sudah ada izin belum?”.
“Belum, Pak. Jadi harus izin dulu, ya?”
“Iya.” Jawab si Bapak datar sambil memandang lurus-lurus ke saya (ya ampun pakkk.. jaga pandangan!! saya dah ngeri banget, ngeliat saya kayak mo nelen)
“Ooo.. ya udah deh, maaf ya pak, makasih, mari”.
Saya, Puspa, dan Rozi lantas membalikkan badan 180 derajat ke arah yang berlawanan dengan bapak tersebut.
Dan melenggang berusaha menata hati agar tidak terlalu terkejut lantas latah dan lari tunggang langgang (pendeknya: sok cool).
Akhirnya setelah agak jauh, kami bertiga memutuskan untuk beristirahat sejenak mengembalikan kestabilan hati.
Hufff… Alhamdulillah lega, beruntunglah kami, sudah beberapa brosur yang terbagi, dan tanggapan orang-orang cukup membuat hati kami yang gundah gulana sedikit tersenyum. Beruntunglah kami, si bapak security tadi gak main hakim sendiri.
Tidak terpikirkan, kalo kami bertiga ditangkap lantas digelandang ke kantor security, apa kata dunia???????
Jadi, begitulah pengalaman beberapa jam kami menjadi sales di Pondok Indah.
Pelajaran hari ini:
- Pekerjaan sales itu sangat berat, melelahkan, dan merepotkan namun juga sangat penting. Jadi, hargailah para sales di manapun mereka berada. Hidup sales! Hehehe…
About


assalamualaikum wr wb
Len, nama lembaga privatnya g usah disensor. Sekalian promosi
.
Apa dagdigdug juga buat aturan dilarang promosi selain pemilik kios? Kalau mau ijin harus ke manajer promosi juga???
Pengalaman luar biasa…tidak semua orang pernah mengalaminya termasuk aku. Semangat yah!
subhanallah… mantabzz… emang harus kayak gitu klo mo mulai usaha. Musti nekadddzzz… musti bner2 tebelin muka.
) pasti bisa maju. Yang penting konsisten, jangan nyerah.
ane yakin, klo kenekatan2 kek gitu bisa dipertahankan sama leni dkk, Mco privat (oopps.. bocor deh
Semangat len…!!!
whoaaah..
semangat ya!