Positif atau Negatif?

myonlyminds January 2nd, 2010

Dia bukan lentera jiwaku

Mungkin, karena itu, aku tidak menyukainya

Walaupun seorang yang dipercaya mengatakan ia bagus

Tapi, tetap saja hatiku tidak bisa menyukainya

Dan, beberapa hari lagi..

Aku harus mengenalkannya pada orang-orang

Aku tidak tahu

Aku setengah hati

Tapi, sudah kepalang basah

Lebih baik basah sekalian dan menikmatinya

Bisa jadi setelah itu aku terkena flu

Atau bisa jadi aku tetap sehat dan menganggapnya permainan yang menyenangkan

Semua memang tergantung kepada pikiran

Mana yang kamu pilih?

Menyambutnya dengan POSITIF atau NEGATIF?

Maafkan Aku, Allah…

myonlyminds, nasihatmenasihati November 28th, 2009

Sebenernya ini suatu hal lama..

Temen-temen mungkin sudah pernah membacanya.

Tapi, bagi saya yang namanya nasihat menasihati tidaklah mengenal kata kadaluarsa. Saya kembali diingatkan lagi tentang hal ini dari seorang kawan, yang bahkan saya belum mengenalnya dari hati ke hati.. Ukhti Meralda, terimakasih sudah mengingatkan saya :)

Semoga suatu saat kita bisa bertemu dan menjalin persahabatan yang erat karena-Nya :)

* * *

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah …
semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah …
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra)

* * *

Ya Allah, aku mohon maaf padaMu..

Jika apa yang pernah kuucapkan belum sejalan dengan yang kulakukan

Jika pernah terlintas di benakku niatan-niatan lainnya selain untuk ibadah padaMu..

Semoga aku bisa senantiasa memperbarui niatku

The Art of Ignorance #1

belajaryok, myonlyminds November 1st, 2009

Just got these nice words from Tumblr. Yaya, this is what i call the art of ignorance. Many versions of them, so i give you the lesson number one, now.. Although there are some words that i don’t agree hehehe ;)

* * *

Don’t waste your time worrying about boys.

Boys will come and go

Don’t waste your time caring about the people who don’t like you.

Chances are you don’t like them either.

Don’t waste your time worrying if people are talking about you.

You affected their lives, they didn’t affect yours.

Waste your time with friends.

Live for the moment, laugh often, be immature, do anything and everything.

If it’s something you’ll regret in the morning, sleep late and when you wake up, laugh about it with your friends, cause your friends are what matter most.

When you have your friends, you have everything.

Sentilan #1

nasihatmenasihati October 28th, 2009

saat aku lelah menulis dan membaca
di atas buku-buku kuletakkan kepala
dan saat pipiku menyentuh sampulnya
hatiku tersengat
kewajibanku masih berjebah,
bagaimana mungkin aku bisa istirahat?

-Imam An Nawawi-

Amal Saleh & Keikhlasan (2)

belajaryok, nasihatmenasihati October 25th, 2009

Lanjutannya..

5. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih ditujukan untuk Allah dan dalam kerangka sunnah serta syariat

Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, ingin di depan barisan, ingin memegang kendali dan ambisi menguasai pusat-pusat kepemimpinan. Bahkan, orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggungjawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

Rasulullah saw telah menjelaskan model manusia seperti itu dalam sebuah sabdanya: “Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)

Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid saat dicopot dari jabatannya sebagai panglima pasukan. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanpa mengomel. Padahal ia adalah seorang panglima yang selalu mendapatkan kemenangan.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya

Kadang kita melihat ada sebagian orang yang marah, menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan dan menjauh dari medan perjuangan, gara-gara ada yang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, melukai perasaannya atau menjelekkan salah seorang teman dekat dan kerabatnya.

Padahal keikhlasan tujuan seharusnya menjadikannya tetap melanjutkan perjuangan dan komitmen pada orientasinya, betapapun banyaknya orang yang melakukan kesalahan, kelengahan atau melampaui batas. Sebab, ia beramal untuk Allah SWT bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya atau si fulan dan si fulanah dari kalangan manusia.

7. Panjangnya perjalanan dalam berjuang, lamanya memanen hasil perjuangan, tidak membuatnya malas, kendur, atau meninggalkan hal yang diperjuangkannya

Sebab, ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan atau mencari kemenangan. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

Pada hari akhir nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, mengapa kalian tidak mendapatkan kemenangan? Allah tidak akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak berhasil? Tetapi, Allah akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak beramal?”

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan bersemangat dalam berjuang.

Orang yang ikhlas tidak akan iri terhadap kemunculan orang-orang yang memiliki visi sama dalam berjuang bahkan apabila ternyata orang tersebut lebih segalanya dari dirinya. Ia justru akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk terus mengembangkan kemampuan dan menggantikan posisinya dalam melanjutkan perjuangan.

Tentang poin ini, sebenarnya saya jadi ingat sebuah diskusi dengan sobat saya. Bahwa ada dua reaksi manusia dalam menanggapi fenomena “munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan sukses dari kita”, yakni generous growing dan jealous limiting. Seseorang yang ikhlas dapat dikatakan juga sebagai seseorang yang memiliki sifat generous growing, yakni ia bahagia melihat kesuksesan orang lain dan mendukung perkembangannya (growing). Menurut saya orang-orang generous growing inilah yang dapat berperan sangat baik sebagai seorang positive influencer dalam membangun bangsa. Karena ia tidak berkutat pada dirinya, tetapi juga memberikan dukungan-dukungannya pada orang lain. Sedangkan seseorang yang jealous limiting jelas akan membuat dirinya sendiri merugi juga merusuhi orang lain. Ia akan melakukan segala cara untuk menghalangi perkembangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berkonsentrasi bagaimana membuat dirinya sebagai yang paling menonjol dan berpengaruh.

* * *

Akhir kata, saya mohon maaf, kalau… postingan ini dirasa terlalu panjaaang. Semoga saja ada manfaat dan ilmu yang bisa diambil. Intinya, apapun yang kamu lakukan, seberapa besar yang kamu kerjakan, seberapa terkenalnya kamu di kalangan orang-orang, tetaplah berusaha untuk menundukkan hatimu ke bawah. Jangan biarkan dirimu terbang terlalu tinggi untuk akhirnya jatuh di hadapan-Nya.

Oya, ada satu tambahan kisah menarik berkaitan dengan postingan ini:

Ada seorang petani sederhana. Setiap hari, ia pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Ya, di dalam hatinya tujuannya ke sawah memang adalah untuk bercocok tanam. Suatu hari, ia menemukan seekor ikan di sawahnya. Petani itu menganggapnya sebagai sebuah rezeki. Ia lantas membawa ikan tersebut pulang dan menggorengnya untuk dijadikan lauk. Sekarang pertanyaannya? Apakah pada hari berikutnya petani tersebut lantas mengubah niatnya menjadi beternak ikan yang lebih menguntungkan dan meninggalkan bercocok tanam? TIDAK. Ia tetap pada niat awalnya, yakni bercocok tanam. Ia menganggap bahwa apa yang didapatkannya kemarin, sebuah ikan untuk lauk, adalah rezeki tambahan yang ia dapatkan dari-Nya karena kasih sayang-Nya.

Semoga pesan implisit dalam kisah tersebut tersampaikan ke kamu semua ;)

Amal Saleh & Keikhlasan (1)

belajaryok, nasihatmenasihati October 25th, 2009

Salah satu episode tulisan untuk “mengikat” ilmu.

* * *

Syarat bagi Perindu Rabb-nya

Al-Qur’an berkata dalam surat Al-Kahfi ayat 110:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Kalau membaca ayat tersebut, kita bisa melihat bahwa untuk seseorang yang sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan untuk menjadi seseorang yang dirindui oleh Allah, ada dua syarat. Yakni mengerjakan amal saleh dan tidak mempersekutukan-Nya.

Hanya karena dua syarat saja yang dibutuhkan, bukan berarti hal tersebut mudah dicapai. Namun, bukan berarti pula sulit untuk dicapai. Ada banyak hal yang harus kita perhatikan, terutama mengenai faktor pertama, yakni amal yang saleh.

Amal Saleh

Berbicara mengenai amal saleh memang mudah. Tapi, implementasinya sulit luar biasa. Karena melibatkan dua hal yang tidak kasat mata dan sulit dinilai dengan parameter-parameter ilmiah. Suatu amal dikatakan sebagai amal yang saleh, apabila memenuhi dua hal berikut ini:

  1. Ikhlas & lurus niat
  2. Sejalan dengan sunnah dan syariat

Dua hal yang sederhana dalam kata, tapi tidak sederhana dalam laku.

Ikhlas

Imam Syahid Hasan Al-Banna menerangkan ikhlas sebagai berikut, “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya kepada Allah; mengharap keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Al-An’am: 162). Dengan begitu, seorang Al-akh telah memahami makna slogan abadinya: Allah tujuan kami”.

Ikhlas, adalah satu kata yang membutuhkan lebih dari satu usaha untuk mengamininya. Ikhlas adalah ketika kita hanya berharap keridhaan-Nya dan bukan ridha manusia dalam beramal. Tidak ada sebersit pun keinginan-keinginan jiwa yang mendominasi, seperti menginginkan pujian, harta, juga ketenaran dari manusia lainnya.

Ikhlas juga merupakan hasil dari kesempurnaan pemahaman seseorang terhadap tauhid, yakni mengesakan Allah dalam beribadah, berharap hanya ridha-Nya, dan menutup mata dari yang lainnya. Oleh karena itulah mengapa pada akhirnya riya (tidak ikhlas dalam berbuat dan berharap pujian) dianggap sebagai sebuah kesyirikan (syirik kecil). Dan itulah pula sebabnya dalam surat Al-Kahfi ayat 110, kita menjumpai syarat lainnya selain amal saleh, yakni tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Rukun Diterimanya Amal

Telah dituliskan sebelumnya bahwa suatu amalan saleh tidak akan diterima oleh Allah, kecuali jika dua rukun telah terpenuhi, yakni keikhlasan dan lurusnya niat, serta amalan tersebut dilakukan sejalan dengan sunnah dan syariat.

Dalam surat Al-Mulk ayat 2, terdapat firman Allah yang berbunyi, “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (ahsanu amalan)”. Ketika itu, ada seseorang yang bertanya kepada Fudhail bin Iyadh sebagai berikut, “Apakah yang dimaksud dengan ahsanu amalan atau amalam yang paling ikhlas dan paling tepat?”. Lalu, Fudhail pun menjawab, “Sesungguhnya, suatu amal itu bila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak tepat, maka tidak diterima oleh Allah, dan bila dilakukan secara tepat tetapi dengan tidak ikhlas, maka tidak diterima (oleh Allah). Amal tidak diterima sehingga dilakukan dengan ikhlas dan tepat. Yang dimaksud ikhlas adalah menjadikan amal untuk Allah, sedangkan tepat adalah sesuai dengan sunnah (Rasulullah saw)”.

Indikasi Keikhlasan

Beberapa hal di bawah ini adalah indikasi-indikasi dari keikhlasan seseorang:

1. Khawatir terhadap ketenaran

Seseorang yang ikhlas akan khawatir terhadap ketenarannya karena ia meyakini bahwa meskipun ketenarannya telah tersebar ke segala penjuru, ketenaran itu tetap tidak akan dapat menolongnya dari siksa Allah jika Allah menghendaki.

Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.

Fudhail bin Iyadh berkata: “Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah SWT?”

Namun, perkataan di atas bukanlah berarti sebagai ajakan untuk mengisolasi diri karena orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut pada zamannya adalah tokoh-tokoh yang bergaul juga di masyarakat serta memiliki pengaruh baik dalam membina masyarakat. Seruan di atas cukup dipahami sebagai sebuah peringatan agar kita waspada terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi juga kehati-hatian terhadap pintu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan dalam menembus hati manusia.

Pada hakikatnya ketenaran bukan suatu hal yang tercela, karena tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan) dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keimanannya)”.

2. Orang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah dan kewajibannya

Seorang yang ikhlas hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri. Bahkan, ia selalu takut dengan kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebaikan-kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya: “Mengapa engkau menangis, padahal engkau telah puasa, shalat malam, berjihad, bersedekah, haji, umrah, mengajarkan ilmu dan berdzikir”. Ia menjawab: “siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjami bahwa amalku diterima di sisi Tuhanku? Sementara Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah:27)

3. Orang ikhlas mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang dipublikasikan

Seorang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon dalam beramal. Menjadi akar pohon, ia tetap melakukan tugasnya untuk membuat pohon berdiri kokoh dan tegak, namun di saat itu pula, ia lebih memilih untuk tetap “berada di dalam tanah”.

4. Tidak menggubris keridhoan manusia apabila di balik itu terdapat kemurkaan Allah

Ada sebuah syair yang bisa menjelaskan poin ini dengan gamblang

Dengan-Mu ada kelezatan, meski terasa pahit, kuharapkan ridha-Mu; meski seluruh manusia marah

Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis; meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan

Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan; sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka

The Out of Ordinary People Volume 2

belajaryok October 20th, 2009

Setelah dua bulan menunggu, akhirnya volume #2-nya dirilis juga.. mohon maaf buat yang nungguin ya.. *emang ada yg nungguin?* :P

Volume kedua ini adalah tentang kegiatan sosial dan perlombaan.. mudah2an ada inspirasi yang bisa diambil dari mereka yang diwawancarain di sini..

Dari tanggapan volume #1, kita mengimprove beberapa hal di sini.. dan alhamdulillah dapet bantuan tambahan personel smile. terimakasih ya buat semua responnya dulu..

Tanpa panjang kata, silakan nikmati volume #2-nya smile

Oh iya, ini link yg kemarin: volume #1 Kepanitiaan - Organisasi

Link yang sekarang: volume #2 Kegiatan Sosial - Perlombaan

Getting Closer to My Dream

myonlyminds October 18th, 2009

Kekuatan mimpi!

Seberapa besar kamu percaya akan hal itu?

Saya percaya sekali kawan! Saya berusaha meresapi mimpi-mimpi itu, mengalirkannya dalam darah saya, denyut nadi saya. Saya berusaha untuk membuatnya bergerak seirama dengan nafas. And, it really works, you know!

Mimpi yang kuat itu menghasilkan komitmen pada diri saya. Komitmen untuk tetap bergerak, di segala kondisi, bagaimanapun lelahnya, bagaimanapun ABCD lainnya.. Pada akhirnya semua memang bermuara pada aksi untuk mewujudkan apa yang telah diimpikan. Memang benar kata-kata Marcia Wieder,

“Commitment leads to action. Action brings your dream closer”

Dan sekarang, saya mulai melihat impian saya sedikit demi sedikit menjadi nyata.. Puzzlenya mulai membentuk suatu image yang utuh, mulai terkonstruk. Ini semua memang tidak lepas dari bantuan-Nya. Apalah hamba ini tanpa Dia.

Walau perjuangan mendaki impian itu masih panjang, tapi saya sudah mulai merasakan baunya. Sudah mulai melihat pintu-pintu kesempatan menuju tangga yang lebih tinggi terbuka lebar. Tinggal saatnya istiqomah dan semakin maju ke depan.

Saya yakin, insya Allah bisa :)

* * *

NB: Impian saya adalah tentang Indonesia Berprestasi. Di jangka panjang saya benar-benar ingin menjadikan Indonesia Berprestasi sebagai sebuah gerakan yang berkonsentrasi pada kebangkitan spirit dan moral dari anak-anak Indonesia. Tidak hanya untuk mereka yang berada di dunia maya, tapi untuk anak-anak muda di semua daerah XD

Bangkit Indonesiaku! Kamu pasti bisa!

Aku Ingin, Bukan Itu..

myonlyminds October 16th, 2009

Kamu tau?

Yang aku inginkan bukan itu.

Bukan kata-kata mantap, hebat, dan lainnya.

Aku hanya ingin kamu bisa merasakan apa yang kurasakan.

Dan apa yang kuimpikan sesungguhnya.

Aku ingin kita bersama-sama berjalan, beriringan, saling bahu membahu, menjadi orang-orang yang lebih baik dan menjadikan sekeliling kita juga lebih baik.

Aku ingin kamu mengingatkanku jika kusalah, memberi masukan kepadaku jika dirasa kurang.

Aku tidak ingin kamu hanya melihatku, terdiam dan membisu.

Aku tidak ingin kamu hanya berucap dan memuji. Pujian itu hanya milik-Nya.

Aku ingin lebih dari sekedar itu.

Aku ingin kita sama-sama menjadi pejuang, pejuang kehidupan :)

* * *

Postingan ini untuk kamu semua yang membacanya :)

Naruto, Miiko, Saiyan

myonlyminds, nasihatmenasihati October 14th, 2009

To live is to be hopeful like Naruto, playful like Miiko, and stronger with each defeat like a Saiyan

Quote by Raditya Dika

* * *

Naruto? Natuurlijk! Absolutely agree with you! Dulu kalo gak salah saya juga sempet nulis deh tentang betapa saya menyukai Naruto haha.. Seorang laki-laki dengan harapan yang tak pernah putus dan selalu bersemangat! What a cool man.. *pssst… saya masih ngikutin komiknya loh sampai sekarang hihihi*

Miiko? Natuurlijk ook! Saiyan? I dunno him actually, but if he’s also a tough guy, then i wanna be like him too :D