Agar Kita Mudah Melewati Neraka
belajaryok, nasihatmenasihati June 20th, 2009
Karena gak sempet meramu bahan dari banyak sumber untuk tugas kultum pas ngaji besok, akhirnya terpaksa mengambilnya dari satu sumber: eramuslim
Huhu, tidak bagus ini, semoga aja di lain kesempatan, bisa buat tulisan yang lebih bagus. Jadi, sebenernya postingan kali ini cuman pengen berbagi aja mengenai suatu hal yang dah pernah dibahas di eramuslim, tapi bahasanya sedikit dibedakan begituuhh hehe. Semoga bisa nambah ilmu kita-kita ya
***
Kita semua pasti tahu, bahwa setiap muslim sebelum berhak mencapi pintu gerbang surga diharuskan melewati ujian berat, yakni menyeberangi jembatan tipis yang membentang di atas Neraka Jahannam. Di dalam sebuah hadits, Nabi SAW melukiskan bahwa jembatan tersebut lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang.
“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim.” ( ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.”) Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)
Kebayang gak sih betapa menakutkannya dan susahnya menyeberangi jembatan tersebut? Secara logika, malah bisa dibilang gak masuk akal dan gak mungkin! How come? Untuk melewati jembatan sekokoh dan selebar Suramadu aja kita harus benar-benar berhati-hati, terhadap kecepatan angin dari sampinglah, dll. Lah ini, jembatannya lebih tipis dari sehelai rambut ditambah lebih tajam dari sebilah pedang…
Tapi, Allah memang Maha Baik dan Maha Pengertian sama hamba-hamba-Nya. Ada permasalahan ada juga jalan keluarnya. Kata hadits yang sama, memang gak semua manusia akan sukses melewati jembatan tipis tersebut, ada yang gagal sehingga terjatuh dan terjembab ke Neraka (ya Allah, jangan sampai, aku tidak mau). Namun, ada juga golongan-golongan yang sukses namun mesti terluka terlebih dahulu ataupun mereka yang langsung sukses menyeberanginya.
Nah, tentunya bin pastinya, kita semua gak pengen dong masuk ke neraka. Selayaknya kenaikkan kelas, untuk mencapai hal tersebut, pastilah ada syarat-syaratnya. Di sebuah hadits lainnya, Allah memberikan jawaban-Nya. Mau tau? Yuk, kita simak.
“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8) Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)
Masih bingung? Jadi begini.. kata artikel nyang saya baca di EraMuslim.com, kita harus mengupayakan agar memiliki cahaya yang cukup untuk dapat menyeberangi kegelapan dan panasnya neraka. Pada saat menyeberangi jembatan tersebut, memang setiap orang akan dibekali cahaya oleh Allah agar mampu melihat jalan yang sedang ditempuhnya. Bila keimanannya baik, maka cahaya yang diterimanya itu akan setia menemani dan menyinari dirinya sepanjang jalan namun…… bila keimanannya bermasalah lantaran dosa yang menumpuk atau justru ia termasuk orang munafik, maka di tengah-tengah perjalanan menyeberangi jembatan, Allah akan memadamkan cahaya yang menemaninya. Gelap-gelap menyusuri jembatan yang sangat tipi situ tentu saja tambah sulit kan? Bisa-bisa jatuh dan terjembab ke neraka.
Lantas, yang jadi pertanyaan berikutnya pastilah amalan apa yang menyebabkan seorang mukim memiliki cukup cahaya untuk sukses menyeberangi jembatan tersebut? Salah satu jawabannya adalah kesungguhan seorang mukmin untuk bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan. Inilah yang disebut dengan aktivitas Taubatan Nasuhan (Taubat yang Murni), buka taubat musiman atau taubat yang tidak menyebabkan seseorang benar-benar meninggalkan perbuatan dosa yang dilakukannya.
”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan Nasuhan (taubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS At-Tahrim ayat
Cara yang kedua, seorang mukmin akan dijamin memiliki cukup cahaya saat menyeberangi jembatan di atas neraka jika ia rajin berjalan ke masjid dalam kegelapan untuk menegakkan sholat wajibnya semata ingin meraih keridhaan Allah. Tuh, dicatet, yah. Nabi bersabda: “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah 773). Bahkan, katanya Nabi SAW sendiri seringkali berdoa seperti berikut ketika sedang berjalan menuju masjid: “Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di sebelah kananku, di sebelah kiriku, di sebelah atasku, di sebelah bawahku, di depanku, di belakangku dan jadikanlah aku bercahaya.” (HR Bukhary 5841).
Lalu, cara yang ketiga adalah bila seorang mukmin melindungi sesama mukmin dari kejahatan orang munafik. Dan sebaliknya barangsiapa yang mengucapkan perkataan buruk untuk mencemarkan seorang Muslim, maka Allah akan menghukumnya dalam bentuk ia ditahan di atas jembatan neraka hingga dosa ucapannya menjadi bersih.
“Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat- dari neraka jahannam. Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya.” (HR Abu Dawud 4239)
Begitulah kiranya, tiga cara atau tiga amalan yang insya Allah akan sangat membantu seorang mukmin dalam melewati jembatan neraka. Saya, kamu, semua pastinya pengen kan mendapatkan kemudahan, mendapatkan cahaya yang terus menyinari sepanjang perjalanan itu. Insya Allah, mari sama-sama berjuang

About

